Kepala DP3ACSKB Prov Babel Jelaskan Dampak Buruk Perkawinan Usia Anak

Bagikan Berita

BangkaBelitung,BERITACMM.com

Terus meningkatnya angka Pernikahan Usia Muda ataupun yang disebut Pernikahan Usia Anak di Bangka Belitung dalam beberapa tahun terakhir.

Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak, Kependudukan Pencatatan Sipil dan Pengendalian Penduduk Keluarga Berencana (DP3ACSKB) Prov Babel terus lakukan sosialiasi dampak dari bahayanya pernikahan usia anak kepada masyarakat.

Berdasarkan data yang dimuat, Pada Tahun 2019 perkawinan usia anak di Babel berada di angka 15,5% kemudian kembali meningkat di Tahun 2020 menjadi 18,76% yang dari hasil ini membuat prov.Babel menunduki peringkat pertama se-Indonesia untuk fenomena perkawinan usia anak .

Tentunya hal ini harus segera dicegah mengingat dampaknya yang begitu mempengaruhi generasi yang akan datang , selain dapat mengalami risiko fisik, perkawinan usia anak juga bisa menyebabkan terjadinya risiko psikologis. sebab secara mental pasangan perkawinan usia anak tersebut belum matang.

Seperti yang telah disampaikan, Kepala DP3ACKB prov Babel, Dr. Asyraf Suryadin, M.Pd menyampaikan agar masyarakat tidak melakukan perkawinan usia anak, adapun minimal pasangan yang ingin menikah harus berusia di atas 19 tahun, atau idealnya perempuan berusia 21 tahun dan laki-laki berusia 25 tahun.

Selain nantinya rentan terjadi kekerasan dan perceraian, pasangan perkawinan usia anak juga bisa menyebabkan kematian ibu dan anak. Pasalnya perempuan tersebut belum siap untuk hamil dan melahirkan, sehingga dapat menyebabkan komplikasi.

“Pasangan perkawinan usia anak begitu rentan terjadi kekerasan dan perceraian, ini dikarenakan persiapan yang belum matang dan juga di usia perempuan yang belum ideal tersebut bayinya berisiko prematur dan stunting” Sampainya saat diwawancarai, Jumat (22/10/2021)

“Perkawinan usia anak juga akan berdampak menimbulkan permasalahan ekonomi dan kebanyakan mengalami putus sekolah. Rata-rata lama sekolah di Bangka Belitung masih di angka 8,06 tahun artinya rata-rata bersekolah masih berada di tingkat SMP” Tambah Dr. Asyraf Suryadin, M.Pd

Lebih lanjut, Ia juga menjelaskan faktor penyebab sering terjadinya perkawinan usia anak dikarenakan mencontoh publik figur, pola pikir untuk melepaskan persoalan ekonomi keluarga, pergaulan bebas, kurang penerapan nilai keagamaan, pola pengasuhan anak serta masih ada pemikiran malu jika lambat menikah.

“Ini bisa digecah dengan dengan pendekatan agama serta disarankan remaja untuk banyak beraktivitas. Menikah perlu mempersiapkan emosi, mental, ekonomi personal, keahlian dan intelektual. Sehingga keluarga yang dibangun mempunyai kekuatan,” Jelasnya.

Terakhir , Ia pun berharap dengan sosialiasi terus digencarkan oleh DP3ACKB prov Babel nantinya dapat meningkatkan kesadaran masyarakat atas dampak bahaya dari pernikahan usia anak dan terjado pengurangan angka kasus perkawinan usia anak di Babel

“Tentunya kita harapkan dari sosialisasi yang terus gencar kita lakukan bisa membuat masyarakat sadar atas dampak dari pernikahan usia muda seperti yang sudah dijelaskan , dan berfokus terlebih dulu pada pendidikan dan menunggu hingga usia ideal untuk melakukan pernikahan” Tutup Dr. Asyraf Suryadin, M.Pd

(Jek)


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *