Siswa SMA Sebut Full Day School Membosankan, Begini Sikap Dewan Pendidikan Babel

Bagikan Berita

Pangkalpinang,BERITACMM.com

Dunia pendidikan saat ini telah menerapkan sistem belajar penuh satu hari atau yang disebut full day school.

Meski hampir seluruh sekolah di Indonesia telah menerapkan kebijakan full day school.
Namun tak jarang kebijakan ini menuai keluhan dari beberapa siswa yang ada di Kota Pangkalpinang.

Seperti yang dirasakan Aurel (15) siswi di salah satu SMA di kota Pangkalpinang.

Menurut Aurel, kebijakan full day school justru membuat para murid merasa bosan dan jenuh.

Pasalnya, para siswa harus menjalani pembelajaran dari pagi hingga sore hari, belum lagi ditambah tugas atau pekerjaan rumah (PR) yang menumpuk.

Oleh karna itu, Ia menilai, full day school malah akan membuat stres dan membuat murid tidak mampu menyerap pelajaran.

“Sebenarnya gak setuju lah bang, karna waktu belajar kita ini terlalu lama, belajar saja sudah tidak fokus kalo terlalu lama begini, pertama karna capek bang, belum lagi nanti di tambah PR,” kata Aurel kepada beritacmm.com, Sabtu (08/10/2022).

Sementara itu, menyikapi hal ini, Sekretaris Dewan Pendidikan Babel, Ibrahim menjelaskan, kebijakan full day school dimaksudkan untuk memanfaatkan secara maksimal waktu peserta didik di sekolah.

Dengan harapan semakin banyak waktu di sekolah, aktivitas peserta didik lebih terkontrol dan mengurangi kemungkinan menerima pengaruh lingkungan yang kurang baik. Hal ini juga bisa disebut sebagai optimasi waktu belajar. Selain itu, hal ini juga dipandang sepadan dengan libur dua hari kemudian.

Namun, menurut Ibrahim, tentu saja ada hal yang perlu diperhatikan, terutama menyangkut soal kualitas pembelajaran dan berkurangnya pula waktu istirahat bagi peserta didik.

“Mereka bisa saja mengalami kejenuhan karena proses yang berlangsung lama. Belajar terlalu lama berpotensi meningkatkan mood yang kurang baik, kelelahan, dan dampaknya lagi adalah emosi yang kurang stabil,” jelas Rektor UBB ini saat di konfirmasi oleh Beritacmm.com, Jumat (07/10/2022).

Dikatakan Ibrahim, hingga saat ini pihaknya memang belum menerima laporan ataupun pengaduan kebijakan full day school yang dianggap memberatkan tersebut.

“Sejauh ini dewan pendidikan belum menerima pengaduan resmi, namun pembicaraan terkait hal ini sudah mengemuka dan kami tentu memantau,” bebernya.

Lebih lanjut, ia menyampaikan, pada prinsip pihaknya akan tetap patuh terhadap kebijakan pemerintah, namun apabila kebijakan tersebut menimbulkan gejolak hingga memberikan dampak tak baik bagi para peserta didik, tentu kebijakan ini perlu dikaji ulang secara seksama.

“Prinsipnya kita patuh pada kebijakan pemerintah, tapi jika ada ruang berbeda tentu perlu dipertimbangkan catatan tersebut. Keberatan atas pelaksanaannya adalah bias dari interest yang berbeda dan hal itu perlu disikapi secara bijak,” pungkas Ibrahim.

(Jek)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *