BeritaDaerahEkonomi BisnisNasionalPemerintahan

Gandeng IPB dan UBB, Bappeda Lakukan Riset Pengumpulan Data Konservasi Mangrove di Babel

Bagikan Berita

Pangkalpinang,BERITACMM.com

Bappeda Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel) menggelar Focuss Group Discussion (FGD) bersama IPB dan UBB sebagai persiapan survei pengumpulan data primer dalam konservasi mangrove di Bangka Belitung, di Kantor Bappeda Babel, Jumat (07/07/2023).

Kabid penelitian dan pengembangan Bappeda Babel, Rusdi mengatakan, riset yang dilakukan ini sebagai upaya konservasi mangrove di Babel dengan melakukan pendekatan melalui Sosial Ecological System (SES) berbasis model dinamik.

“Kita menggandeng Institut Pertanian Bogor (IPB) dan Universitas Bangka Belitung (UBB) untuk melakukan riset aplikasi blue carbon trading sebagai upaya konservasi mangrove di Babel, Riset ini juga kita lakukan untuk meminimalisir kekhawatiran terhadap rusaknya sumber daya alam Babel yakni mangrove,” ungkapnya.

Untuk itu, dikatakan Rusdi, bahwa pihaknya juga akan tetap fokus menjaga hutan mangrove, karena untuk melakukan perdagangan karbon dalam konsep Blue Economy ada mekanisme yang harus ditaati.

“Semakin subur mangrove semakin banyak karbon yang dihasilkan karena jika hutan tetap dijaga akan menghasilkan karbon yang semakin tinggi,” pungkasnya.

Sementara itu, Widyaiswara BKPSDMD Babel, Selamet Wahyudi berharap melalui FGD ini bisa menjadi kebijakan Pemrov Babel bagaimana memelihara keberadaan mangrove.

“Karena mangrove ini akan habis dengan adanya aktivitas yang tidak berkelanjutan seperti tambang, tambak udang, sawit dan lainnya, karena mangrove ini penyerapan karbon dan sebagai industri ground untuk pertumbuhan ikan-ikan baru,” ucapnya.

Menurut Slamet, berkaca dari daerah luar seperti contoh Jambi, apabila suatu daerah mampu merawat dan menjaga hutan mangrove tersebut, maka akan menghasilkan nilai ekonomi yang cukup tinggi.

“Ketepatan dan volumenya bisa di hitung berapa yang akan menghasilkan emisi karbon. Belum ada kebijakan Provinsi untuk memelihara mangrove ini, padahal mangrove ini bisa untuk nursery ground atau pertumbuhan ikan-ikan baru,” tuturnya.

Disisi lain, Peneliti dari Institut Pertanian Bogor (IPB), Kastana Sapanli mengatakan penelitian ini usaha kita bagaimana fungsi mangrove itu dapat menyerap karbon untuk menghasilkan oksigen.

“Ini merupakan kegiatan riset kita yang bekerjasama antara tiga pihak yakni dari Pemda, IPB, dan UBB, dengan tujuan karena ini menjadi kekhawatiran kita bagaimana rusaknya mangrove di Babel ini,” ujarnya.

Dia mengatakan, pihaknya membantu Babel karena mangrove ancamananya begitu besar ketika berada di wilayah yang notabene-nya memiliki tambang timah, tambang timah, tambak udang dan kebun sawit.

“Saat ini mangrove ada mekanisme perdagangan karbon, yang mana menjadi usaha kita untuk mempertahankan fungsi mangrove agar tetap terjaga, sehingga kita dapat menjual karbonnya, namun tetap mempertahankan mangrove ini,” tuturnya.

Namun untuk mencapai hal tersebut, menurut Kastana, perlu adanya identifikasi masyarakat. Dirinya juga berharap, Bappeda membuat naskah akademik terkait adanya peraturan dan peta lokasi hutan mangrove agar dapat dimasukan ke database secara nasional.

“Jika pemda belum medatabase itu maka kita belum bisa menjual karbon ini, dan database ini baru kita kejar sehingga nanti bisa untuk diklaim karena tidak bisa sembarangan kita menjual karbon,” tutupnya.

(Jek)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *